Bayangan “Revolusi” dalam Gelombang Aksi September 2025

Gambar : Presiden Prabowo Subianto /Ist 

Oleh : Redaksi Juangpost 

– Gelombang aksi demonstrasi yang terus mengguncang jalanan ibu kota hingga daerah-daerah, mulai dari ormas, aksi buruh, ojek online, hingga mahasiswa, tak lagi bisa dibaca sekadar sebagai luapan protes spontan rakyat Indonesia.

Pola yang muncul belakangan ini tampak lebih terstruktur, bahkan sistematis, dan diduga kuat berkaitan dengan intrik kelompok oligarki yang bersembunyi di lingkar pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Coba kita perhatikan, awalnya, tuntutan massa bergerak dari isu-isu klasik, perilaku anggota DPR, desakan pembubaran DPR, protes tunjangan DPR, Kebijakan Kontroversi, hingga kritik terhadap ketidakstabilan ekonomi dan revisi undang-undang.

Namun arah demonstrasi mendadak berubah drastis setelah publik diguncang tragedi meninggalnya Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online yang terlindas kendaraan taktis milik Polri di kawasan pusat pemerintahan.

Tragedi itu menjadi pemicu ledakan emosi rakyat. Suasana duka seketika berubah menjadi amarah kolektif. Massa dan aparat saling berhadapan dalam ketegangan yang kian membara di ibukota. Kantor-kantor Kepolisian dibakar masa seolah tidak ada keparcaya di mata warga.

Di tengah situasi panas, tak jarang terlihat sosok-sosok misterius, orang-orang bertutup kepala dan bermasker, melancarkan aksi provokatif dengan melempar benda keras bahkan bom molotov di fasilitas umum, membakar bangunan bahkan menyulut kemarahan di kerumunan demonstran.

Aksi-aksi liar pun menyusul. Penjarahan, dan kerusuhan sporadis merebak di sejumlah titik. Sedangkan Identitas para pelaku tak jelas, namun pola yang sama muncul di berbagai daerah, seolah ada “remote control” yang menggerakkan kerusuhan secara serentak.

Pertanyaan besar pun mencuat, siapa sebenarnya dalang di balik gelombang aksi dan kerusuhan ini?

Isu yang beredar di ruang publik kini menuding adanya manipulasi informasi yang bersumber dari “dua matahari kembar” dalam pemerintahan Prabowo, bahkan diduga melibatkan kelompok eksternal pemerintahan yang bermodal besar.

Siapa dua mata hari kembar ini?. Spekulasi pun berkembang, apakah mafia oligarki yang selama ini nyaman bercokol sejak pemerintahan Jokowidodo yang tidak bisa lepas dari kabinet Merah Putih, dan mulai resah dengan arah kebijakan Presiden Prabowo ?

Diduga ketegangan elit pemerintahan mulai muncul setelah upaya kriminalisasi terhadap mantan menteri kelompok “Geng Solo” yang keluar barisan, mendapat Amnesti dan Abolisi dari Presiden Prabowo.

Seolah genderang kekacauan pemerintahan Prabowo dimulai pasca ditangkapnya wakil menteri yang merupakan pengikut setia Geng Solo.

Selain itu Presiden Prabowo membongkar mafia Migas yang dikendalikan Riza Chalid. Konon Riza Chalid adalah orang dekat dan khusus Jokowidodo selama menjabat Presiden.

Hadirnya TNI untuk meredam situasi darurat hingga pelosok daerah, pembatasan penggunaan sosial media melalui fitur live, pembatasan pemberitaan, menandai bahwa negara tengah menghadapi krisis serius.

Selain itu Prabowo juga telah mengisyaratkan situasi genting dengan mengundang berbagai tokoh organisasi keagamaan di istana, tokoh politik nasional dan para purnawirawan jendral.

Kini Menteri Pertahanan Indonesia Sjafrie Sjamsoeddin tengah menyampaikan perintah agar Polri, TNI dan seluruh Intelijen bekerja sama menjaga situasi keamanan masyarakat. Apa yang sebenarnya terjadi?, bisakah kedua institusi itu berkolaborasi ditengah emosi rakyat?.

Publik mulai curiga, jangan-jangan ada skenario terorganisir untuk merusak citra pemerintah, menciptakan kesan bahwa Prabowo gagal menjaga stabilitas nasional dengan membenturkan Eksekutif dan Legislatif. Membenturkan Rakyat dan Aparat. Kita lihat langkah apa yang akan dilakukan oleh Majelis Permusawaratan Rakyat.

Kini gelombang desakan justru meluas, mengarah pada seruan “Revolusi Pemerintahan” dan reformasi institusi Polri.

Sebagian kalangan menilai ini hanyalah pintu masuk menuju agenda politik yang lebih besar, pemakzulan Presiden ataukah Wakil Presiden, atau justru intrik reshuffle kabinet besar-besaran untuk mengganti figur-figur lama yang di sebut “Geng Solo” atau kata Bahlil, sang Raja Jawa.

Apa missi Geng Solo sebenarnya, atau memang benar mereka adalah Oligarki yang dimaksud, diduga terus mempertahankan keabadian untuk berkuasa yang kini terusik?.

Jika benar demikian, maka demonstrasi yang tampak “organik” sesungguhnya harus tertib tanpa konflik menyuarakan dukungan kepada Presiden Prabowo untuk mereformasi pemerintahannya dan menyampaikan tuntutan.

Oligarki bisa saja memainkan dua wajah, menekan pemerintah dari dalam sekaligus menyalakan api protes di jalanan, dengan rakyat sebagai korban sekaligus alat tawar kekuasaan.

Di tengah arus informasi yang simpang siur, publik wajib meningkatkan kewaspadaan. Banyak laporan mengindikasikan adanya penyusup, oknum aparat berkedok massa aksi, preman bayaran, hingga provokator bayangan.

Mereka bergerak dengan satu tujuan, menciptakan kekacauan massal. Mata dunia seolah tergerak memberi perhatian kepada bangsa Indonesia dengan berbagai kerusuhan yang terjadi di Indonesia melalui siaran tv luar negeri. Sementara kamera Jurnalis di Indonesia seolah-olah dibatasi.

Seruan “nyalakan semua mata, rekam dengan kamera” menjadi penting. Dokumentasi publik adalah senjata untuk membuka siapa sebenarnya pemicu anarki.

Terlebih, ada hal yang patut dicurigai, mengapa banyak CCTV di ruang publik tidak berfungsi saat kerusuhan terjadi? Apakah ini sekadar kebetulan, atau strategi lama untuk menghilangkan bukti ketika eksekusi lapangan berlangsung?

Kini semua mata tertuju pada tanggal 1–5 September 2025, yang disebut-sebut akan menjadi momentum penentu arah krisis politik Indonesia.

Pertanyaan mendesak, apakah gelombang protes akan berubah menjadi revolusi terbuka? Apakah pemerintah berhasil mengendalikan situasi? Ataukah justru agenda tersembunyi oligarki semakin terang benderang menuju revolusi pemerintahan?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini tentu belum jelas. Namun satu hal pasti, bangsa ini tengah berada di persimpangan krisis politik sekaligus ekonomi jika tidak segera diakhiri.

Demokrasi kita sedang diuji, Rakyat yang hilang kepercayaan dijadikan tameng pergerakan, sementara kekuasaan kembali dipertaruhkan lewat oligarki melalui parlemen jalanan.

Berbeda dengan situasi dari Daerah Kabupaten dan Kota, ada yang sekedar mendalami informasi, merangkum untuk sebuah cerita, ikut-ikutan bersuara dan juga bergerak menuntut penguasa tapi tidak ada potensi bentrok sesama.

“Semoga badai aksi nasional segera berakhir. Bangsa Indonesia butuh stabilitas ekonomi, bukan justru tameng kekuasaan. Damailah ibu Pertiwi.”

Penulis: RedEditor: DP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *