
Juangpost.com|TULANG BAWANG BARAT– Ratusan siswa SMP Karya Bhakti Panaragan, Kecamatan Tulang Bawang Tengah, Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba), Lampung, belajar dibawah atap rapuh masih menjalani kegiatan belajar yang nyaris ambruk.
Ironisnya, usulan rehabilitasi yang telah berulang kali diajukan sejak beberapa tahun terakhir belum juga ada perhatian dari pemerintah.
Berdasarkan penelusuran di lokasi, bangunan sekolah swasta yang berdiri sejak 1981 dan dibangun secara mandiri oleh yayasan bersama masyarakat itu mengalami kerusakan serius.
Atap bocor, plafon jebol, rangka kayu penyangga lapuk, serta kusen pintu dan jendela yang rusak menjadi ancaman nyata bagi keselamatan warga sekolah.

Meski demikian, proses belajar mengajar tetap berlangsung. Pihak sekolah mengaku tidak memiliki pilihan lain demi memastikan pendidikan bagi para siswa tetap berjalan.
Kepala SMP Karya Bhakti Panaragan, Ananda Ruri Vianora, S.Pd, mengatakan sekolah saat ini memiliki 148 siswa yang dibimbing oleh 21 tenaga pendidik dan kependidikan.
“Kami tetap berupaya agar kegiatan belajar mengajar berjalan sebagaimana mestinya. Semangat guru dan siswa tidak pernah surut, meski kondisi ruang kelas sangat memprihatinkan,” ujar Ananda saat dikonfirmasi, Kamis (30/7/2026).
Menurutnya, pihak yayasan sengaja tidak membebankan biaya pembangunan kepada orang tua siswa karena mempertimbangkan kondisi ekonomi masyarakat yang mayoritas berpenghasilan terbatas.

Ananda mengungkapkan, proposal rehabilitasi ruang kelas telah berkali-kali diajukan kepada pemerintah daerah. Bahkan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Tubaba bersama tim konsultan disebut telah beberapa kali melakukan peninjauan dan pengukuran kondisi bangunan.
“Tim dari dinas dan konsultan sudah beberapa kali datang. Mereka menyampaikan bahwa kondisi ruang kelas ini layak diprioritaskan karena sudah membahayakan. Namun sampai sekarang belum juga ada realisasi pembangunan,” katanya.
Ia menambahkan, bantuan terakhir yang diterima sekolah berasal dari pemerintah pada 2020 berupa pembangunan gedung perpustakaan dan laboratorium IPA.
Sementara ruang kelas yang menjadi fasilitas utama pembelajaran belum pernah direhabilitasi. Proposal revitalisasi juga kembali diajukan sejak 2025, namun hingga pertengahan 2026 belum memperoleh kepastian.
Ketua Komite SMP Karya Bhakti Panaragan, Tarmindi, menegaskan rehabilitasi ruang kelas sudah menjadi kebutuhan yang sangat mendesak mengingat sekolah tersebut telah menjadi tumpuan pendidikan masyarakat selama hampir lima dekade.
“Kalau hanya mengandalkan swadaya masyarakat, tentu akan sangat lama. Kami berharap pemerintah segera turun tangan sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Keselamatan anak-anak harus menjadi prioritas,” tegasnya.
Menurut Tarmindi, SMP Karya Bhakti melayani peserta didik dari Tiyuh Panaragan, Menggala Mas, Bandar Dewa, hingga wilayah sekitarnya, dan telah meluluskan sekitar 1.800 alumni sejak berdiri.
Hingga berita ini diterbitkan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tulang Bawang Barat belum memberikan tanggapan meski telah diupayakan untuk dikonfirmasi.






