LAMPUNG UTARA,JUANGPOST.COM-Seorang siswi asal SDN 1 Cempaka di Kabupaten Lampung Utara, Provinsi Lampung hingga saat ini terbaring lemah di RSUD Abdul Moeloek Bandar Lampung, setelah di Vaksin DT yang dilakukan di sekolahnya pada 20 November 2023 lalu.
Dikatakan AN orang tua QNA, bahawa dirinya tidak mengetahui anaknya bakal disuntik Vaksin di sekolah.
“Pihak Sekolah tidak ada pemberitahuan kepada wali murid boleh atau tidaknya QNA di suntikuntuk,” kata AN kepada media, Minggu (17/12/2023)
AN menceritakan hal tersebut kepada media, lantaran hingga Sabtu 16 Desember 2023, kondisi QNA semakin memburuk dan berpotensi cacat seumur hidup.
“Setelah di suntik, QNA belum waktunya pulang sekolah, sudah mengeluh pusing, matanya sakit, dan mual, kemudian diizinkan oleh guru nya pulang lebih awal sekitar pukul 10.30 Wib” cerita AN
Setibanya di rumah, QNA bicara pada orang tuanya AN bahwa dirinya disuntik Vaksin DT di sekolah, sambil menahan sakit di bagian mata, mual, demam dan kebas ditangan dan kaki.
“Demam QNA naik turun tidak stabil selama tiga hari, tetapi pada hari ketiga jari-jari tangan sebelah kiri mulai bergerak dengan sendiri. Saya tidak begitu merespon, karena saya pikir masih efek dari suntik. Semakin hari semakin parah pergelangan tangan bergerak sendiri sampai di hari senin seluruh tangan dari pundak sampai jari2 bergerak reflek.” kata AN
Setelah 9 hari dari suntik, AN orang tua QNA menemui pihak sekolah, menanyakan atas perubahan anaknya pasca di suntik, tetapi pihak skolah menyerahkan kepada pihak Puskesmas.
“Jadi kami disuruh ke Puskesmas, setelah sampai di Puskesmas, QNA akan dirujuk ke RSU Handayani pada poli anak. Setelah dibawa ke RS Handayani, QNA diperiksa dan dilakukan pengecekan darah. Setelah di tangani dokter, ternyata bacakan oleh dokter ternyata QNA harus di rujuk ke RSUD Abdul muluk Bandar Lampung.” kata AN
Sementara itu masih menurut keluarga QNA, selama dirawat di RSUD Abdul Muluk banyak dilakukan tes darah, tetapi sampai saat ini belum ada tindak lanjut pengobatan lantaran menggu jadwal MRI.
“Masalah ini sudah sampai dinas kesehatan Kabupaten Lampung Utara dan Provinsi, tapi belum ada tindakan sedangkan kondisi anak kami semakin hari semakin lemah. Mohon bantuan nya. Agar anak kmi dapt segera d obati.” kata Maryani.
Lanjut Maryani, pada hari Rabu 13 Desember dilakukan MRI pada pukul 13.00 – 14.00. Stelah 3 hari pada tanggal 15 Desember pukul 19.00 Wib, dokter yang memegang pasien QNA ke ruangan untuk memberikan informasi hasil MRI tersebut.
“Bedasarkan kan penjelasan dr.Roro bahwa anak saya sakit bukan karena vaksinasi yang diakukan disekolah melainkan secara kebetulan saja, pada dasarnya memang akan sakit seperti ini bahwa syaraf sebelah kiri sudah ada yang mati jadi tidak dapat di hidupkan lagi.” kata Maryani menirukan konfirmasi dari Dokter.
Menurutnya, dr. Roro akan berusaha mencari jalan pengobatan. Sedangkan, menurut penjelasan dokter, kata Maryani karena bukan permasalahan KIPI jadi dinas kesehatan akan berhenti dalam pembiayaan pengobatan pasien.
Sementara itu, dikonfirmasi melalui telepon, hingga berita ini diterbitkan pihak puskesmas dan sekolah serta dokter yang menangani, belum berhasil dikonfirmasi.(Red/A/D)












