Sekolah Seni Tubaba Gelar Tubaba Art Festival

TUBABA,JUANGPOST.COM-Penyelenggaraan Tubaba Art Festival (TAF) edisi yang ke-6 tahun 2022, di Kabupaten Tulangbawang Barat (Tubaba) Lampung, akan menonjolkan penampilan seni budaya dari anak-anak asli Tubaba, Dengan mengusung tema utama “SELF & SPACE.

Hal itu diungkapkan oleh Direktur Sekolah Seni Tubaba, Semi Ikra Anggara, saat menggelar Konferensi Pers di Cafe kota Budaya Uluan Nugrik, Kelurahan Panaragan Jaya, Kecamatan Tulangbawang Tengah (TBT) Kabupaten Tubaba, Kamis (03/11/2022).

Festival TAF ke-6 akan dilaksanakan pada 4-6 November 2022, digelar secara tersebar di berbagai venue yakni, Kota Budaya Uluan Nughik, Tiyuh-tiyuh, Studio Tanoh Nughik, Bioskop Bekas Sinar Jaya, Sesat Agung Bumi Gayo Ragem Sai Mangi Wawai dan Pasar Pulung Kencana,” jelas Semi.

Dia menegaskan bahwa, kegiatan TAF ini diselenggarakan oleh sekolah seni Tubaba atau yayasan pendidikan seni yang mana kami mendapatkan dana hibah sebesar Ro.400 juta.

Semi juga meminta kepada awak media untuk penyelenggaraan kegiatan ini silahkan teman-teman kawal, karena kami mendukung keterbukaan, mendukung demokrasi dan kami bersikap anti korupsi sejak awal, kebudayaan pendidikan harus berada dalam semangat demokrasi dan menentang tindakan-tindakan korup menentang tindakan-tindakan yang busuk yang merugikan masyarakat.

“Jadi itu penting saya sampaikan karena ini akan menjadi karakter kerja-kerja Pendidikan dan kerja-kerja Kebudayaan kami,” ujarnya.

Ia juga menegaskan, festival ini meneguhkan dua hal yaitu persoalan diri dan ruang, hubungan antara seseorang dan hunian yang saling membentuk dan dibentuk.

tema tahun ini, lanjut dia, yakni “Terrace of Awareness” bahwa pelataran teras, yang dibayangkan sebagai ruang terdepan dari sebuah rumah adalah tempat dimana aktivitas perkenalan/ perjumpaan bermula, maka teras menjadi pilihan untuk memulai festival – sebagai undangan berkunjung, berjumpa dan bercengkrama dalam perayaan kesenian.

Semi menjelaskan, Teras kesadaran adalah upaya tubaba untuk memperkenalkan segala kesenian yang telah diracik dan dimasak hampir sepanjang tahun di dalam “Rumah Tubaba”. Untuk kemudian disajikan kepada para warga dan tamu festival, yang terbagi menjadi tiga menu utama, pertunjukan, pameran/ pemutaran film dan lokakarya.

Nantinya, ada beberapa karya berupaya membuat terobosan estetika, karya tari Site Specific akan dipentaskan di pasar pulung kencana, ikonik besutan Andra Matin, Pasar Pulung Kencana. Para penari memungut berbagai tanda yang terhampar dari ruang dan fenomena pasar lantas dipresentasikan melalui vocabulari gerak hasil temuan mereka sendiri.

Teater anak adalah karya yang durasi penciptaan nya paling panjang dalam festival ini, bocah-bocah berusia 6-15 tahun berlatih hampir satu tahun demi mementaskan lakon “Bunian” sebuah lakon pendidikan karakter yang memunculkan watak hantu baik yang mengajarkan respek, sopan santun, solidaritas dan kecintaan terhadap lingkungan,”ujarnya.

Teater ini ramai dengan tarian, musik dan permainan aktor-aktornya yang natural. Sedangkan pameran Seni Rupa Anak, kembali akan memamerkan karya “Perjalanan Karet”, sebuah karya seni rupa lintas media berdasarkan riset kehidupan sehari-hari masyarakat petani karet di Tubaba.

Selain ketiga karya tersebut, masih banyak beberapa penampilan kesenian, workshop dan lokakarya. Di antaranya yakni, pameran keramik di Studio Tanoh Nughik, peluncuran buku antologi puisi-cerpen siswa-siswi Tubaba, pertunjukan musik dari Jogja Kembali, sebuah kelompok musik Hibrida yang digawangi mahasiswa/mahasiswi Tubaba yang sedang menempuh pendidikan seni musik di kota Yogyakarta, pemutaran film karya komunitas, dan beberapa lokakarya.(Red/ACP)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *