– Dalam peta politik Pilkada Lampung 2024, publik dikejutkan oleh kemunculan Arinal Djunaidi yang digadang-gadang akan maju sebagai calon gubernur dengan dukungan PDI Perjuangan.
Langkah ini memunculkan spekulasi tentang dinamika politik di Lampung, terlebih partai berlambang banteng diisukan tidak menggandeng Umar Ahmad.
Sebelumnya Umar Ahmad telah mendapatkan tugas sebagai calon wakil gubernur Lampung, bahkan intensitas Umar, RMD dan Jihan sering bertemu di berbagai momen.
Akan tetapi kini muncul fenomena lain, yaitu DPP PDI Perjuangan diisukan justru memilih Sutono sebagai calon wakil gubernur yang akan mendampingi Arinal Djunaidi.
Fenomena menarik juga adalah Rahmat Mirzani Djausal (RMD), yang kini berpasangan dengan Jihan Nurlela, adik kandung mantan Wakil Gubernur Lampung, Khusnunia Chalim (Nunik).
RMD, yang dikenal sebagai sosok berpengaruh dan kuat bagi elit di tingkat pusat, tampaknya menjadi ancaman nyata munculnya Arinal Djunaidi mantan Gubernur Lampung.
Spekulasi juga berkembang bahwa kemungkinan campur tangan aktor-aktor penting di belakang RMD yang berhasil mengendalikan dinamika politik hingga partai Golkar Lampung yang dipimpin Arinal Djunaidi justru jatuh ke tangan RMD dan Jihan.
Pengaruh kuat elit partai tingkat pusat, memberi sinyal seakan akan kekuasaan partai pun dikendalikan oleh kekuatan besar di tingkat pusat.
“Hemmmm…. Bisa jadi ya!, video yang sempat viral, Airlangga saat mengucapkan kata-kata mundur saja ada yang memandu. Gila badai, sekelas Airlangga saja mundur bro!”
Peta politik Lampung tentu menjadi semakin kompleks setelah Mahkamah Konstitusi merubah aturan ambang batas pencalonan, yang memungkinkan PDI Perjuangan bergerak tanpa koalisi.
Tentu hal Ini membuka jalan bagi Arinal Djunaidi untuk maju meski tanpa restu dari Golkar di tingkat pusat.
Namun, pertanyaannya adalah apakah Arinal benar-benar akan menjadi penantang serius bagi RMD?
Ada apa dengan PDI Perjuangan memunculkan Arinal Djunaidi? Padahal Elektabilitas Umar Ahmad, mantan Bupati Tulang Bawang Barat dinilai lebih kuat di tingkat akar rumput, justru tidak dimunculkan PDI Perjuangan.
Di sisi lain, kemunculan RMD yang awalnya berniat maju di Pilkada Kota Bandar Lampung, sampai saat ini bulat tekat berkeinginan menjadi Gubernur Lampung, tentu situasi ini memperlihatkan bahwa pertarungan politik pada Pilkada Lampung saat ini jauh dari sekadar formalitas.
Tentu saja bisa kita lihat semua partai dan aktor politik dari Koalisi Indonesia Maju plus PKB dan Nasdem telah menunjukkan kemampuan terbaik mereka membuktikan dukungan penuh kepada RMD.
Sampai – sampai kader-kader terbaik diinternal partai harus menelan pahit tidak dapat restu dari elit partainya masing-masing dari di tingkat pusat.
Saat ini masyarakat Lampung telah dihadapkan pada pilihan yang sangat menentukan bagi masa depan provinsi.
Pilkada Lampung 2024 ini akan menjadi ujian bagi demokrasi Indonesia khususnya di Lampung, apakah rakyat benar-benar diberikan pilihan yang beragam atau hanya disuguhi calon-calon yang dipilih oleh elit pusat.
Masyarakat Lampung, sebagai pemegang mandat, tentu harus cermat dalam menentukan pilihan mereka, karena keputusan yang diambil akan menentukan arah pembangunan dan kesejahteraan daerah ini di masa depan.
“Apakah Arinal Djunaidi hanya menjadi pelengkap demokrasi semata, asal jangan lawan Kotak kosong atau justru akan bertarung habis-habisan melawan RMD?”
Kita pantau dan ikut perkembangannya, apakah PDI Perjuangan bisa membuktikan bahwa partainya matang hitung hitungan menang jika merekomendasikan Arinal dan Sutono, kita simak selanjutnya. Tabik punn….!
Oleh : Dedi Priyono (Ketua PWI Tubaba)
















