Juangpost.com
Tulang Bawang Barat
– Langit cerah menyambut sore hari sekitar pukul 16.00 WIB, ketika sinar matahari seakan memahami isi hati manusia yang berkumpul di sekitar batu tegak yang kokoh di sebuah halaman rumah tradisional Tubaba.
Pemandangan langit berkabut putih, seolah lukisan kuasa Ilahi, mewarnai keceriaan pertemuan para pecinta seni budaya di kawasan yang dijuluki Kota Budaya Uluan Nughik oleh mantan penguasa Tubaba, Umar Ahmad, terdahulu.

Pada Kamis, 1 Agustus 2024, Tubaba Art Festival (TAF) ke-8 ini resmi dibuka dan akan berakhir pada 3 Agustus 2024, tentu akan menjadi magnet ratusan bahkan ribuan pengunjung dari berbagai daerah, menandai bulan kemerdekaan Republik Indonesia dengan kreasi seni anak desa yang memiliki wawasan mancanegara.
Festival ini mengusung tema “Self and Space” dengan suguhan “Festivity From The Kitchen”, dipersembahkan oleh para seniman tingkat dewa yang karyanya mungkin sulit dipahami oleh orang awam.
Mungkin saja butuh waktu untuk menyadari nilai-nilai seni budaya di Tubaba yang patut dikagumi dan dicintai sepanjang masa.
Pembukaan festival nasional ini dimulai dengan tarian enerjik dan penuh semangat dari anak-anak dan remaja, diiringi musik yang menggelitik pengunjung, sehingga ikut bergoyang dan menghentakkan kaki.
Penampilan mereka menunjukkan potensi besar generasi muda dalam melestarikan seni budaya masa depan Tubaba, menjadi pembuka sempurna untuk festival yang penuh dengan karya seni luar biasa.
TAF 2024 adalah bukti nyata bagaimana seni dapat menyatukan berbagai elemen masyarakat, menciptakan karya-karya yang menginspirasi dan mengangkat nilai-nilai budaya lokal ke tingkat nasional dan internasional.
Dihadapan ratusan pengunjung Pujian datang dari Penjabat (Pj) Gubernur Lampung, Samsudin, yang menjanjikan tampil di Istana Mahan Agung suatu waktu, mengakui bahwa event ini termasuk yang terbaik di Indonesia.

Kekaguman juga datang dari Pj Bupati Tubaba, Muhammad Firsada, yang menyapa ratusan pengunjung “Festivity From The Kitchen”.
Bahkan dia juga berkomitmen untuk terus merawat dan melestarikan kesenian dan kebudayaan di Tubaba serta berharap tumbuh seni-seni baru yang menjadikan Tubaba bernilai seni tinggi.
Dukungan kuat juga datang dari Direktorat Event Daerah Kemenparekraf, melalui Reza Pahlevi, yang mengapresiasi Tubaba Art Festival sebagai bagian dari platform Karisma Event Nusantara (KEN), masuk dalam 110 event terbaik seluruh Indonesia.
Bukan sekedar pertunjukan biasa yang penting acara, tetapi nilai seni yang diwujudakan dalam tari seperti “Tari Krakatoa: Boom…di Las Sengoq” memang seperti terdengar hal yang nyeleneh, dan itulah seni yang diekspresikan dengan suatu hal yang istimewa.
Kolaborasi lokal, nasional dan internasional dalam bentuk tari juga menjadi sorotan seperti pertunjukan “Tari Krakatoa: Boom …di Las Sengoq.”
Karya ini mungkinsaja hasil kolaborasi antara seniman internasional dan seniman Indonesia, menciptakan tarian yang menggambarkan letusan Gunung Krakatoa dengan penuh energi dan emosi.
Gerakan yang dinamis dan koreografi yang kompleks menciptakan pengalaman yang mengesankan bagi para penonton.
Suguhan juga dipertontonkan dalam bentuk “Pameran Seni Rupa Palestina Artcare”, yaitu Pameran seni rupa yang menghadirkan karya-karya seni dari Palestina, membawa pesan damai dan solidaritas.
Melalui lukisan, patung, dan instalasi, pameran ini mengajak pengunjung untuk memahami lebih dalam tentang budaya dan perjuangan rakyat Palestina.
Karya-karya yang dipamerkan tidak hanya indah secara visual tetapi juga sarat dengan makna dan cerita.
Ada Pameran Seni Rupa “Kitchen” dari Sekolah Seni Tubaba.” dimana Siswa Sekolah Seni Tubaba juga turut berpartisipasi dalam festival ini dengan pameran seni rupa bertema “Kitchen.”
Karya-karya yang dipamerkan mencerminkan kehidupan sehari-hari di dapur, namun dengan perspektif artistik yang unik.
Pameran ini menunjukkan bakat dan kreativitas para siswa dalam mengekspresikan tema sederhana menjadi karya seni yang menarik.
Ada juga ” Teater Anak di Selasar Studio Keramik” Di Selasar Studio Keramik, penonton disuguhi pertunjukan teater anak yang penuh keceriaan dan imajinasi.
Anak-anak menampilkan berbagai cerita melalui akting, musik, dan tarian, menunjukkan kemampuan mereka dalam berkreasi dan berkomunikasi melalui seni peran.
Pertunjukan ini tidak hanya menghibur tetapi juga menginspirasi penonton muda untuk terlibat dalam seni teater.
Kemudian yang membuat suasana penuhkedaiaman dengan irama “Panji Sakti x Musik Sekolah Seni Tubaba.” sepertinya Kolaborasi musik antara Panji Sakti x dan siswa Sekolah Seni Tubaba juga menjadi highlight dalam festival ini.
Dengan menggabungkan instrumen tradisional dan modern, mereka menciptakan harmoni yang memukau. Musik yang mereka ciptakan tidak hanya menyenangkan untuk didengar tetapi juga memperlihatkan kekayaan budaya musik Indonesia.
Tubaba Art Festival ke-8 tampaknya bukan hanya ajang pameran karya seni biasa, tetapi juga wadah untuk menginspirasi, menyatukan, dan mengangkat seni budaya lokal ke panggung yang lebih luas, membuktikan bahwa Tubaba memiliki potensi seni yang layak dihargai di tingkat nasional dan internasional.
Event ini tentunya sebagai bukti nyata bagaimana seni dapat menyatukan kehidupan masyarakat, dengan karya-karya yang menginspirasi dan mengangkat nilai-nilai kebudaya lokal.
Selamat berkunjung, selamat merayakan dan melestarikan seni budaya anak desa berwawasan nusantara dunia.







