Hilangkan Cemas dan Menanti Harapan ASN Tubaba

Gambar Ilustrasi Juangpost.com

Opini : Redaksi Juangpost.com 

Tulang Bawang Barat – Pergantian kepala daerah memang selalu menghadirkan dinamika, antara harapan dan kecemasan, antara sambutan hangat dan suara-suara sumbang.

Tidak jarang pula, berbagai isu liar bermunculan mengisi ruang publik dengan praduga, asumsi, hingga provokasi.

Hal ini tentu melanda diberbagai pemerintahan dengan kepemimpinan yang baru. Bisa jadi dinamika serupa juga tengah dialami di Tulang Bawang Barat (Tubaba), Lampung.

Bigitu resmi Novriwan Jaya dan Nadirsyah (NoNa) menjabat sebagai Bupati dan Wakil Bupati periode 2025–2030, riak-riak kegelisahanpun terasa, di kalangan Aparatur Sipil Negara (ASN), bahkan kelompok diluar barisan itu pun ikut berdendang bubuhi irama mencekam.

Bukan karena kebijakan yang dikeluarkan, tetapi karena berbagai isu-isu spekulatif yang dengan mudah berhembus dari mulut ke mulut, disetiap sudut dan ruang obrolan kongkow, berpikir menerka-nerka tanpa dasar jelas, seolah-olah memahami jelas karakter pasangan Novriwan Jaya dan Nadirsyah yang dianggap begitu keras!.

Ada ASN yang tiba-tiba jarang terlihat di ngantor. Ada pula yang tergesa-gesa mencari celah mutasi keluar daerah, bahkan ada pula tiba-tiba pamit karena sudah pindah tugas.

Semua ini konon dipicu oleh rumor bahwa duet pemimpin baru akan melakukan perombakan total birokrasi Tubaba, termasuk menyingkirkan ASN yang dianggap tidak sejalan.

Bahkan, isu mengenai masuknya “pejabat impor” dari luar daerah juga dijadikan bumbu tambahan yang menyebar liar, menumbuhkan kebencian. Padahal bisa jadi ada ASN yang memang sengaja pulang kampung halaman leluhurnya dimomen pemerintahan NoNa.

Seperti suara mengaung yang belum tentu harimau, sebagian sudah lari ketakutan. Padahal, belum tentu akan diterkam.

Isu-isu seperti ini, alih-alih mencerdaskan birokrasi, justru menjadi racun yang merusak atmosfer kerja di lingkup pemerintahan, siap mereka?… Bisa jadi bagian dari yang belum bisa terima kenyataannya.

Namun mari kita bersikap lebih rasional. Jika memang ada niat untuk balas dendam atau merombak total sejak awal, semestinya langkah itu sudah dilakukan sejak hari pertama Novriwan Jaya dan Nadirsyah menjabat.

Kenyataannya, menjelang 180 hari masa pemerintahan, belum ada gerakan drastis dari pasangan NoNa untuk mengganti struktur secara frontal. Justru sebaliknya, mereka menunjukkan pendekatan yang terukur dan hati-hati dari kinerja yang sudah lama mengabdi.

Dalam beberapa pernyataan kepada media, termasuk kepada Juangpost.com, Bupati Novriwan Jaya secara lugas membantah tudingan soal singkir menyingkirkan. Bahkan NoNa menegaskan komitmennya terhadap ASN lokal. “Kalau mereka bisa, kenapa harus impor?” ujar Novriwan.

Kalimat sederhana ini membawa pesan bermakna besar. Bahwa NoNa akan tetap berpihak pada ASN lokal dan penghargaan terhadap kompetensi internal, serta karir para pejuang ASN Tubaba. Pernah terucap Novriwan berharap pejabat Tubaba mayoritas tinggal di Tubaba untuk selalu ada di tengah warga Tubaba.

Keduanya juga menegaskan bahwa setiap penataan jabatan akan dilakukan sesuai aturan, menunggu waktu enam bulan sebagaimana ketentuan perundang-undangan, termasuk pemberitahuan resmi ke Badan Kepegawaian Negara (BKN).

Tentu Ini bukan hanya soal prosedur administratif, tetapi juga bentuk keseriusan untuk menata pemerintahan secara tertib, tetapi masih banyak para penduga yang berprasangka buruk jika penataan dilandaskan oleh emosional.

Ada yang berharap posisi ini posisi itu, cocoknya ini, yang ini sebaiknya itu, yang itu nanti si ini, kalau bisa nanti disini, disitu nanti itu, yang ini gak cocok disitu disitu cocok disini, tolong ini, itu ditolong. Semua itu rahasia NoNa dan pada akhir kata “Surprise”.

Menjelang enam 180 hari kerja pasangan NoNa, sudah seharusnya ASN di Tubaba tidak lagi terjebak dalam asumsi atau ketakutan yang tidak berdasar, sebab NoNa hanya ingin ASN sadar akan tugas dan tanggung jawabnya sebagai Abdi negara yang siap melayani dengan baik dan memberikan yang terbaik untuk Tubaba.

Jika ada yang merasa khawatir karena pernah mengambil sikap berbeda saat Pilkada, tidak perlu diajari untuk refleksi, bukan justru lari.

Jika ada yang merasa telah berkontribusi, buktikan melalui kerja nyata, bukan menuntut kursi tanpa kompetensi. Bisa jadi semua posisi yang sempat diformasi, tiba-tiba berubah formulasi.

Tak banyak yang bisa memahami, pasangan NoNa justru memperlihatkan keseimbangan karakter yang cukup unik. Novriwan Jaya tampil tegas dan langsung pada sasaran, sementara Nadirsyah tampil lebih komunikatif dan akrab, padahal keduanya dalam satu pemikiran.

Kombinasi ini bisa menjadi kekuatan strategis dalam membangun birokrasi yang tidak hanya tertib secara struktur, tetapi juga hangat secara komunikasi yang bisa saling melengkapi.

Reformasi Birokrasi?, kalau memang ingin dimulai, bukan dengan “cuci gudang”, tapi melalui pembinaan dan penataan sistematis. Tergantung ASN mau sadar diri atau tidak. Atau bahkan tetap larut dalam kecemasan.

Loyalitas tidak cukup, jika tidak dibarengi dengan kapabilitas dan integritas. Inilah titik krusial yang perlu disadari oleh setiap ASN di Tubaba, bahwa pemerintahan kini bergerak ke arah profesionalisme, bukan patronase.

Seperti yang pernah dikatakan secara blak-blakan oleh Novriwan, banyak pejabat yang selama ini hanya pura-pura peduli, pura-pura melayani, malas berkontribusi dan berkolaborasi. Terkadang cuma sekedar teori dan bernarasi.

Pernyataan ini menjadi semacam ajakan keras agar ASN benar-benar bekerja, bukan bersandiwara demi posisi. Maka, membangun kepercayaan menjadi sangat penting, baik antara pimpinan dan staf, maupun antara pemerintah dan rakyat.

Pada akhirnya, kepemimpinan bukan tentang siapa yang menang atau kalah di masa lalu, tapi siapa yang siap bekerja untuk masa depan, dan melayani masyarakat dengan kesungguhan.

Sebaliknya kecemasan pejabat dan calon pejabat, ASN dan lainya, dikubur dalam-dalam. Saatnya mengganti kecemasan dengan kolaborasi, dan mengganti praduga dengan prestasi yang dibuktikan tampa harus dijelaskan.

Karena seperti yang dikatakan Novriwan, “Kalau bukan kita di Tubaba, mau siapa lagi yang mau memajukan Tubaba?” Sebuah kalimat sederhana, tetapi bermakna dalam. Kini saatnya membangun, bukan mencurigai. Kini saatnya bekerja, bukan saling menjatuhkan.

“Selamat menantikan harapan dan meninggalkan kecemasan, menjelang enam bulan jabatan NoNa di Tubaba.!” 

Penulis: RedEditor: DP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *