
Tubaba, Juangpost.com – Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba), Lampung, kini berusia 17 tahun pada 6 April 2026, bahasa ngaulnya Sweet Seventeen. Usia yang dalam kehidupan manusia kerap dimaknai sebagai fase transisi penting, dari remaja menuju kedewasaan.
Sebuah titik balik, bukan sekadar selebrasi. Bukan pula sekadar angka. Melainkan momentum untuk bercermin, sejauh mana benar-benar “bertumbuh, berdaya, dan bersama” seperti tema yang diusung.
Di bawah kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati Tubaba Novriwan Jaya dan Nadirsyah (Nona), arah pembangunan Tubaba diletakkan pada fondasi kolaborasi yang mengutamakan kepentingan ekonomi masyarakat.
Sinergi antara eksekutif, legislatif, Forkopimda, hingga pemangku kepentingan lainnya menjadi prioritas utama. Namun, pertanyaannya sederhana, apakah kolaborasi itu sudah disadari oleh “Kepekaan” para pembantu Kepala Daerah, atau hanya berhenti di ruang-ruang formal OPD para pejabat Eselon II dan III?
Warisan nilai Ragem Sai Mangi Wawai (kebersamaan untuk keberhasilan) sejatinya bukan sekadar slogan budaya yang hanya menempel di ruangan, label group, kop surat, stempel dan bet bajunya saja.
Ragem Sai Mangi Wawai adalah “Kompas Moral” yang harus hidup dikandung badan dalam setiap insan di Tubaba, terutama dalam mengambil kebijakan dan tindakan setiap pejabat Tubaba sebagi simbol pemerintahan.
Nilai ini menuntut kehadiran pemerintah dalam bentuk pelayanan yang nyata, bukan sekadar simbolik belaka. Simbol ini menuntut para pemimpin yang tidak hanya hadir saat momen tertentu, tetapi juga saat masyarakat menghadapi berbagai tantangan.
Memasuki usia ke 17, Tubaba tidak lagi bisa memaklumi diri sebagai “Daerah Berkembang” dengan segala keterbatasannya. Usia ini adalah usia pengakuan bahwa daerah ini harus mulai berdiri tegak, mandiri, dan bertanggung jawab atas masa depannya sendiri.
Layaknya seorang remaja yang telah memiliki KTP, Tubaba kini memiliki “identitas” resmi yang harus dikembangkan dan dipertanggungjawabkan, bukan sekedar di banggakan.
Realitas di lapangan, masih menyisakan pekerjaan rumah yang tidak ringan bagi Novriwan Jaya dan Nadirsyah. Kualitas sumber daya manusia, khususnya ASN Tubaba yang berada diposisi atas, harus “digembleng total” dan disadarkan!.
Profesionalisme, Kepekaan, dan Kecepatan tim kerja ASN dalam merespon gerak langkah program dan kegiatan bahkan “Gestur” Bupati dan Wakil Bupati Tubaba, mungkin saat ini “tak tahu paham“.
Pelayanan publik kerap masih dihadapkan pada pola lama yang lamban, birokratis, dan kurang adaptif. Di sisi lain, tantangan ekonomi masyarakat juga belum sepenuhnya terjawab. Bisa jadi, teguran lisan sederhana kadang dimunculkan hanya dengan “Gestur” Nona untuk para pembantunya.
Pemberdayaan yang diinginkan NoNa tentu harus benar-benar menyentuh sektor riil bagi petani, pelaku UMKM, dan masyarakat kecil yang menjadi tulang punggung ekonomi lokal. Infrastruktur pun masih menjadi isu klasik yang tak pernah usia meskipun urat nadi pembangunan.
Tapi masyarakat harus menyadari bahwa tidak sepenuhnya kepala daerah yang salah, kondisi ekonomi negara dimasa kepemimpinan Presiden Prabowo-Gibran sangatlah terasa melemah secara nasional bahkan global.
Tema “Bertumbuh, Berdaya, Bersama” pada HUT 17 Tubaba, sejatinya adalah refleksi mendalam, bukan sekadar jargon peringatan saja. Gerakan Do’a bersama serentak diseluruh pelosok Tubaba berharap menuju masa depan punya makna.
Bertumbuh berarti berani mengevaluasi diri, memperbaiki kekurangan, dan meninggalkan pola lama yang tidak relevan.
Berdaya berarti menciptakan sistem yang memungkinkan masyarakat berkembang, bukan bergantung. Sedangkan makna Bersama berarti menghadirkan kebersamaan, bagi seluruh lapisan masyarakat.
Pada titik ini, Tubaba membutuhkan lebih dari sekadar program. Ia membutuhkan keberanian. Terutama Keberanian untuk melakukan reformasi birokrasi secara nyata.
Keberanian untuk menindak tegas pejabat yang tidak kompeten, pejabat yang cuma omon-omon, cuma jago beretorika tanpa gerak nyata, tidak peka, banyak gaya, cari muka dan tidak berintegritas, “Buang!”.
Keberanian untuk membuka ruang partisipasi publik yang lebih luas dan transparan, dan menyuarakan kebaikan dengan gerak dan langkah yang tidak manipulatif.
Wahai, para pejabat Tubaba, usia 17 Tubaba ini adalah “Pengingat”, jabatan bukanlah simbol posisi abadi, melainkan amanah sementara yang akan dimintai pertanggungjawaban. Jangan biarkan kepercayaan publik terkikis oleh sikap abai, tamak, dan manipulatif yang lama dipelihara.
Kedewasaan daerah juga menuntut kedewasaan setiap masyarakatnya, partisipasi aktif, kontrol sosial, dan kepedulian terhadap pembangunan harus terus dijaga.
Sesungguhnya Kritik bukanlah ancaman, melainkan energi kuat untuk perubahan, Coba renungkan dan instropeksi diri dengan bertanya kediri sendiri.
“Siapa saya, dari mana saya, bagaimana bisa diposisi sekarang, berkontribusi apa saya, sudah benarkah sikap saya, siapa teman, sahabat dan kerabat saya, loyalkah saya dengan pimpinan dan semuanya” Dan banyak pertanyaan lainnya untuk diri sendiri agar sadar diri!.
Pada akhirnya, perayaan HUT ke 17 Tubaba tentu seharusnya tidak hanya berhenti pada panggung seremonial. Harus menjadi titik tolak untuk melangkah lebih serius menuju masa depan. Sebab kedewasaan bukan ditentukan oleh usia, melainkan oleh keberanian untuk berubah dan konsistensi dalam memperbaiki diri.
Tubaba telah beranjak 17 tahun, Kini saatnya membuktikan, apakah benar -benar siap menjadi dewasa, atau tetap nyaman bersembunyi di balik bayangan semu dan mengejar posisi jabatan, hmmm!.
“Sweet Seventeen Tubaba, semoga selalu Ragem Sai Mangi Wawai ”





