
Tubaba, Juangpost.com – Pagi itu, 1 April 2026, tak ada riuh yang berlebihan di lingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba) Lampung, santai tapi Pasti.
Tidak ada pertemuan besar, tidak pula seremoni panjang yang menggema keras dari ruang, meskipun spekulasi sempat berhembus kencang dikalangan Pejabat Eselon II tentang siapa menjabat apa, siapa menggantikan apa?
Dibalik kesunyian yang tak disadari, ternyata sebuah bab penting dalam perjalanan birokrasi seseorang ASN daerah Tubaba yang sempat dikemas dalam acara apel perpisahan pada Senin 30 Maret 2026 di aula Gedung kantor Bupati, Sekretariat Daerah Tubaba.
Kemudian dilanjutkan perpisahan secara internal inspektorat Tubaba pada 31 Maret 2026 di sebuah Rumah Makan ternama di Bandar Lampung.
Perana Putera, diketahui sosok birokrat senior yang mengabdikan diri lebih dari satu setengah dekade, akhirnya menutup lembaran panjang kariernya sebagai ASN dengan kata “Pensiun”.
Mulai dari ruang Pendidikan, Administrasi, Kesehatan hingga meja Pengawasan, jejak langkahnya tampak terbaca diberbagai sudut strategis di Pemerintahan Tubaba.
Ia pernah menjadi Kepala Dinas Pendidikan, Sebagai Asisten, merangkap Plt Kepala Dinas Kesehatan, hingga duduk di kursi Pelaksana Tugas Sekretaris Daerah Tubaba.
Diakhir pengabdiannya, ia berdiri di garis sebagai Inspektur, bahkan juga menduduki posisi Komisaris Utama BPRS Tani Tubaba, posisi yang kerap sunyi, namun sarat makna tanggung jawab yang besar.
Berakhirnya jabatan ASN Perana Putera, seseorang ASN diundang Sekretaris Daerah Tubaba Iwan Mursalin, sekitar pukul 8 pagi pada Rabu 1 April 2026 di ruangan kerja Sekda kantor Bupati Tubaba.
Ternyata hadir nama Iwansyah, yang tak asing, tak pula baru. Sejak 2021, Iwansyah telah berada di dalam sistem Inspektorat Tubaba menjabat sebagai Sekretaris.
Iwansyah tentu paham betul bagaimana ritme kerja lembaga itu berjalan, memahami celah-celah yang kerap luput dari perhatian dan tertutup rapat, demi menjaga marwah lembaga dan bahkan merasakan langsung bagaimana fungsi pengawasan dijalankan di tengah dinamika birokrasi.
Penunjukannya sebagai Pelaksana Tugas Inspektur, sebagaimana tertuang dalam surat perintah tugas tertanggal 1 April 2026 ditandatangani Sekretaris Daerah Tubaba, mungkin terlihat sebagai langkah administratif biasa. Namun, di balik itu, tersimpan harapan dan tanggung jawab yang tidak sederhana.
Inspektorat bukan sekadar instansi biasa. Ia adalah mata yang mengawasi, telinga yang mendengar, dan dalam idealnya suara yang berani mengingatkan dengan tegas searah dengan karakter Bupati dan Wakil Bupati Tubaba.
Di meja-meja kerjanya, laporan keuangan ditelaah, kebijakan diuji, dan potensi berbagai permasalahan seharusnya dihentikan sebelum membesar. Mengawasi seluruh kinerja pemerintah, berkolaborasi dengan berbagai stakeholder mitra strategis.
Tetapi realitas sebelumnya bisa jadi sering kali tak seideal itu. Di banyak daerah, lembaga pengawasan internal justru berjalan di lorong sunyi di antara tuntutan profesionalisme dan tekanan struktural yang tertutup rapat.
Ia diharapkan tajam, namun sering kali dituntut untuk tetap aman. Ia diberi kewenangan, tetapi tidak selalu diberi ruang independensi yang utuh, terkadang garis koordinasi hanya pormalitas belaka.
Di titik inilah, estafet dari Perana Putera ke Iwansyah akan menemukan peran Inspektorat Tubaba yang sesungguhnya.
Apakah ini sekadar pergantian figur yang melanjutkan pola lama? Atau menjadi awal dari keberanian baru dalam memperkuat fungsi pengawasan internal pemerintah?
Iwansyah memulai perannya bukan dari nol. Ia mewarisi sistem, budaya kerja, sekaligus tantangan yang telah lama berakar. Namun justru di situlah letak ujiannya, apakah ia akan sekadar menjaga ritme, atau berani mengubah pola yang selama ini mungkin tidak pernah diketahui oleh pimpinan daerah?
Penunjukan pelaksana tugas hanyalah jembatan sementara, tetapi sesungguhnya banyak pihak yang menginginkan posisi sebagai Inspektur definitif?
Pengawasan bukan tentang siapa yang duduk di kursi itu, tetapi yang terpenting adalah tentang keberanian untuk menjaga integritas, bahkan menampakkan akuntabilitas Inspektorat Tubaba yang sesungguhnya.
“Selamat Purna Tugas pak Perana Putra, dan Selamat Melaksanakan Tugas Pak Iwansyah”.





