Suluk Fijawat Thoriqoh Naqsyabandiyah Indonesia Tahun 2026 Resmi di Buka, 322 Peserta dari Penjuru Indonesia

Foto : Penyerahan Cindra Mata Guru Suluk Thoriqoh Naqsyabandiyah kepada Kabag Kesra Sumsel. Dok/FiqihJP.

MUSI BANYUASIN, JUANGPOST.COM – Sebanyak 322 peserta dari berbagai penjuru Tanah Air mengikuti pembukaan Suluk Kholwat Fijawat Thoriqoh Naqsyabandiyah Indonesia Amirul Aulia Mursyidinal Balai Butari (TNIAAMBB) tahun 2026, yang digelar di Desa Rantau Sialang, Kecamatan Sungai Keruh, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), pukul 16.00 sampai dengan selesai, Sabtu (21/2/2026).

Para Peserta datang dari berbagai provinsi, mulai dari Papua, Nusa Tenggara Timur, hingga Sulawesi Selatan, bahkan terjauh dari Merauke.

Kegiatan spiritual tahunan ini dihadiri jajaran unsur Forkopimda Kabupaten Muba, Camat Sungai Keruh H. Hendri, Kapolsek Tebing Bulang Iptu Mugiono, perwakilan Kesbangpol Muba Candra Saifullah, serta Kabag Kesra Sumatera Selatan H. Adi Hermawan yang mewakili Gubernur Sumsel. Kehadiran para pejabat daerah tersebut menjadi bukti dukungan pemerintah terhadap kegiatan keagamaan yang berorientasi pada pembinaan mental dan spiritual masyarakat.

Ketua Panitia Suluk 2026, Guru Sukarman, dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya suluk gelombang ketiga di tahun kedua ini. Ia menegaskan kegiatan tersebut dapat terlaksana berkat dukungan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan hingga tingkat desa.

“Tugas kami adalah membantu pemerintah melalui doa dan dzikir untuk mewujudkan Indonesia Emas. Jika dalam pelaksanaan terdapat kekurangan, kami memohon maaf sebesar-besarnya,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Dewan Pengurus Pusat TNIAAMBB, Dr. Ismul Kholidin, menyampaikan bahwa suluk merupakan agenda besar tahunan Thoriqoh Naqsyabandiyah Indonesia. Ia menekankan bahwa tujuan utama suluk adalah mengekalkan hati hamba kepada Allah SWT, agar terhindar dari niat kejahatan, kemaksiatan, dan keburukan.

“Dengan hati yang terkoneksi kepada Allah, maka akan lahir pribadi-pribadi yang taat hukum dan bermartabat, sehingga turut mendukung bangsa ini berdiri tegak hingga sampai di internasional,” tegasnya.

Ia juga memastikan bahwa kegiatan ini murni bersifat spiritual dan tidak memiliki unsur politik.

Pada kesempatan yang sama, Bupati Musi Banyuasin melalui Camat Sungai Keruh, H. Hendri, menyampaikan salam hormat dan apresiasi dari pemerintah daerah. Menurutnya, kegiatan suluk merupakan benteng moral dan spiritual masyarakat.

“Pembangunan tidak hanya soal infrastruktur, tetapi juga pembangunan yang bersifat mental dan spiritual. Masyarakat religius dan berakhlakul karimah adalah fondasi daerah yang maju,” katanya.

Apresiasi juga datang dari Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan yang diwakili Kabag Dikdukpora Kesra Sumsel, H. Adi Hermawan. Ia menyebut suluk bukan sekadar ritual, melainkan proses pembinaan rohani yang menuntut kesabaran, disiplin, dan keikhlasan.

“Ketika hati masyarakat bersih, maka akan lahir kebaikan, kejujuran, dan perbuatan yang baik di masyarakat dengan begitu dampaknya akan sangat luas bagi Sumsel dan NKRI itu sendiri,” terangnya.

Dalam kesempatan itu juga, Kabag Kesra membuka secara resmi acara suluk kholwat fijawat tahun 2026 tersebut.

Acara tersebut dilanjutkan dengan arahan dan bimbingan yang disampaikan oleh Guru Suluk Thoriqoh Naqsyabandiyah Indonesia, Buya Syekh Muhammad Maulana Nur Addin Badruzzaman. Ia menjelaskan bahwa suluk berarti menempuh jalan menuju Allah sebagaimana perintah dalam Surah An-Nahl ayat 69.

Perjalanan tersebut, katanya, bukan melawan penyakit fisik, melainkan penyakit rohani seperti iri, dendam, amarah, dan perselisihan, serta penyakit yang bersifat madzmumah lainnya.

“Ruh manusia berasal dari Allah dan harus kembali kepada Allah dalam keadaan suci. Tinggalkan identitas yang ada di luar, fokus beribadah dan berdzikir disini. Belajarlah mati sebelum mati, sucikan diri, dan pancarkan cahaya Allah ketika kembali ke tengah masyarakat,” pesannya.

Melalui suluk ini, para peserta diharapkan mampu membawa nilai-nilai dzikir dan pembersihan hati ke lingkungan masing-masing, menebarkan kebaikan, serta memperkuat fondasi moral masyarakat.

“Di tengah tantangan zaman, suluk menjadi ruang perenungan sekaligus ikhtiar kolektif membangun Indonesia yang religius, bermartabat, dan berkeadaban,” imbuhnya.

Penulis: Fiqih Editor: Red

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *