SUMBAR, JUANG POST. COM-Inilah momen yang haru saat Kapolda Sumatera Barat (Sumbar)mencium foto Almarhum Afif Maulana kemudian mengucapkan permintaan maaf .
Dilansir dari Tribunpekanbaru.com Kapolda Sumatra Barat mengakui Almarhum Afif Maulana sebagai Anaknya.
“Saya cinta saya sama dia, dia anak saya, dia adik saya, kalau boleh nangis saya nangis sekarang, ini anak saya, dia adik saya, saya pernah kelas I SMP Muhammadiyah, saya juga alumni Muhammadiyah, saya anggota IPM, saya anggota AMM, ga mungkin saya tega membunuh dia, ga mungkin, demi Allah, makanya kalau ada polisi yang menyimpang yang melanggar, saya tanggung jawab,” ucap Suharyono sembari mencium foto Afif Maulana.
Ia melanjutkan, pernyataan tersebut bukan hanya di mulut, tapi dari awal ia bilang sudah menyampaikan duka cita ke keluarga Afif.
Pernyataan Suharyono tersebut ia lontarkan kala Mapolda Sumbar digeruduk massa aksi terkait dengan kasus kematian Afif Maulana.
“Sekali lagi mohon maaf, mana kala ada anggota kami kelakuannya kurang profesional kami tindak tegas, tapi perlu diketahui andai kata tawuran itu tidak bisa dicegah mungkin kematiannya lebih banyak,” lanjut dia.
Sosok Kapolda Suharyono beberapa belakangan ini memang mendapat sorotan terkait dengan kematian Afif Maulana . Komentar yang mengundang tanya dari berbagai pihak .
Salah satunya adalah usaha Suharyono ingin fokus mencari penyebar video kematian Afif Mulana . Sementara kelaurag korban ingin pengungkapan juga dilakukan dengan pemeriksaan secara internasl polisi.
Afif Maulana (AM), ditemukan tewas dengan kondisi luka lebam di bawah jembatan Batang Kuranji, Kota Padang, Sumatera Barat, pada Minggu (9/6/2024) siang
Meminta Maaf
Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Sumatera Barat (Sumbar) Irjen Pol Suharyono menemui keluarga Afif Maulana dan massa aksi pada Rabu (26/6/2024) petang.
Ia meminta maaf kepada keluarga Afif secara langsung dihadapan massa aksi dari Koalisi Anti Penyiksaan di depan Mapolda Sumbar.
“Pada kesempatan ini atas nama institusi Polri, selaku Kapolda Sumatera Barat turut berduka cita yang sangat mendalam atas wafatnya anak kita Afif Maulana yang baru berumur 13 tahun. Saya mendoakan terutama keluarga yang ditinggalkan diberikan keikhlasan dan kesabaran, dan saya mendoakan agar arwah almarhum diterima di sisi Allah SWT,” kata Suharyono.
Lebih lanjut, Suharyono bilang sebelumnya sudah menyampaikan ke media bahwa bila ada kesalahan anggota kepolisian, maka Polda Sumbar yang bertanggung jawab. Suharyono minta kepercayaan untuk mengusut kasus tersebut.
Ia menjelaskan kondisi di Kota Padang bahwa pihaknya mengetahui bahwa tiap malam Minggu ada tawuran yang sudah terjadwal.
“Alat-alat yang dibawa mereka apa saja, gangster mereka profilnya seperti apa, berapa orang mereka di kelompoknya, kelakuannya apa saja, itu sudah dijadwal, tawurannya sudah dijadwal, setiap malam Minggu itu ada tawuran, ada empat kelompok besar, besok saya tunjukkan semuanya,” ujarnya.
Suharyono menyebut akan mengungkap semua gangster tawuran di Kota Padang, dan akan menindak tegasnya demi Sumatera Barat dan Padang yang aman.
Diketahui sebelumnya, keluarga Afif Maulana (13), siswa SMP hadiri aksi hari tanpa penyiksaan di Markas Kepolisian Daerah (Mapolda) Sumatera Barat (Sumbar) pada Rabu (26/6/2024) sore.
Tampak hadir ibu, ayah, adik, nenek dan beberapa keluarga Afif lainnya. Adik laki-laki Afif tampak memegang foto kakaknya di antara massa aksi lainnya.
Keluarga almarhum Afif lainnya juga memegang sejumlah kertas tuntutan yang bertuliskan “Kami keluarga AM membantah anak kami melompat dari Jembatan Kuranji”, “OTW Keadilan”, “Anak Kami ‘AM’ anak berprestasi bukan anak anarki”.
Lalu, juga ada kertas dengan narasi “Pak Kapolri, Kapolda, tolong berikan keadilan pada alam Afif Maulana dan keluarga”, “Berikan kami kepastian hasil otopsi ‘AM'”.
Ayah Afif, Afrinaldi (36) juga ikut berorasi meminta keadilan bagi anaknya. “Saya ayah Afif, dan kami keluarga datang ke sini untuk meminta keadilan untuk anak kami yang telah mati disiksa dan dianiaya dan diletakkan di bawah jembatan, kami tidak terima perlakuan ini,” kata Afrinaldi.
Ia menuturkan, keluarga juga tak terima pernyataan Kapolda yang mengatakan Afif terjun dari atas jembatan Kuranji.
“Bukti-bukti yang ada di badan anak saya menunjukkan luka-luka lebam bekas penganiayaan. Kenapa Kapolda hanya menerima kesaksian dari A? Padahal banyak kesaksian dari yang lain,” katanya.
Afrinaldi bilang, keluarga Afif terus berjuang untuk mendapatkan keadilan.
“Saya mohon kepada Pak Kapolri, Kapolda untuk mengusut kasus anak saya ini sampai tuntas dan secara transparan, dan pelaku dihukum seberat-beratnya. Kami meminta agar hasil visum dan autopsi dibuka secara terbuka kepada kami keluarga,” ujar Afrinaldi
Menangis Histeris
Saat aksi itu itu juga, Anggun (32), Ibu dari almarhum Afif Maulana kembali menangis histeris.
Ibu Afif, Anggun (32) saat aksi juga memohon kepada Kapolri dan Kapolda Sumbar untuk mengusut tuntas kasus anaknya. Ia meminta pelaku dihukum mati dan dipecat.
“Pak Kapolri, Kapolda tolong tuntaskan kasus cucu saya, saya memohon, saya tak terima anak saya melompat dari jembatan,” ujar nenek Afif yang juga hadir di aksi yang bertepatan dengan hari anti penyiksaan.
“Saya meminta bantu keadilan untuk Abang saya, tolong dihukum mati seberat-beratnya, dan dipecat, terima kasih bapak Kapolri,” tambah adik Afif.
Untuk diketahui, aksi hari anti penyiksaan diikuti oleh puluhan aktivis yang mengenakan pakaian serba hitam.
Di saat aksi, massa juga membawa atribut aksi berupa replika mayat yang dikafani sebagai lambang solidaritas untuk Afif.
Selain berorasi, massa juga melakukan aksi teatrikal solidaritas untuk almarhum Afif. Sejumlah spanduk juga dipasang di pagar Mapolda Sumbar.
Massa aksi belum beranjak dari Mapolda Sumbar hingga jelang malam. Mereka tetap berorasi dan meminta Kapolda Sumbar Irjen Pol Suharyono turun menemui keluarga Afif.
“Minta maaf di depan keluarga korban. Mana Kapolda? Turun, jangan hanya mengucapkan belasungkawa di televisi, turun segera minta maaf langsung ke keluarga korban,” kata Direktur LBH Padang Indira Suryani saat berorasi.(*)
Kasus Afis Maulana ini kini masih menjadi perhatian serius . Narasi yang dibangun telah membuat kasus ini sampai ke pusat dan menjadi perhatian DPR RI . (*)






